“Sha!!” panggil Rahsya lalu duduk disampingku.
“Iya, ada apa?” sahutku cuek.
“Kok, gitu sih, Sha?”
“Gitu apanya, Ra?”
“Loe, tuh, cuek banget! Dengerin gue, dong! Gue mau cerita, nih, sama loe!”
“Yaaa,,, cerita aja, Ra! Gue pasti dengerin loe, kok.”
“Beneran, nih, ya?”
“Iya! Emang loe mau cerita apa, sih, Ra?”
“Gini, gue lagi suka sama cowok, Sha!”
“Oh ya? Terus?” Aku masih tetap cuek.
“Tuh, kan? Loe tetep cuek, Sha! Dengerin gue sebentar kenapa, sih?”
“Tadi gue udah dengerin loe, Ra! Kurang apalagi, sih?”
“Ekspresi muka loe, tuh, nggak enak banget tau nggak! Agak antusias dikit, kenapa?”
“Iya, deh, iya! Jadi, siapa cowok yang loe taksir itu?”
“Bisma, Sha!!” Rahsya tersenyum.
Aku yang mendengarnya terkejut bukan main. ‘Bisma mana? Bisma, pacar gue?’ batinku.
“Bisma mana, Ra?” Aku mulai antusias.
“Naaahh,,, kan, enak ngeliat muka loe yang antusias kayak gini!”
“Ya udah, deh, Ra! Terserah loe! Sekarang gue tanya sama loe, Bisma mana yang loe maksud?”
“Bisma yang ganteng, cakep, yang pake behel itu, lho, Sha? Masak loe nggak tau, sih? Dia, kan, cowok paling keren di sekolah kita, Sha!?”
“Maksud loe, Bisma yang anak basket itu?”
“Ya iyalah, Sha! Emang di sekolah kita ada yang namanya Bisma selain dia?”
‘Nggak salah lagi! Itu pasti Bisma, pacar gue!’ batinku lagi.
“Sha, loe bisa bantu gue, nggak?”
“Bantu apaan?”
“Yaaa,,, bantuin gue deketin Bisma, dong, Sha! Secara loe, kan, kapten Cheers? Pasti kesempatan loe deket sama dia lebih gede’, Sha!”
“Maksud loe, loe mau masuk Cheers, gitu?”
Rahsya mengangguk sambil nyengir kuda.
“Emang loe bisa?”
“Loe ngeremehin gue, Sha?” seru Rahsya.
“Bukannya gitu, Ra. Tapi, fisik loe kan, nggak kuat. Apa loe sanggup ngejalaninnya?”
“Pasti bisa! Jadi gimana? Gue boleh masuk Cheers, kan, Sha?”
“Ntar, deh, gue pikirin lagi.”
“Makasih, ya, Sha? Loe itu emang sahabat gue yang paaaaaaaaliiiiiiiinnggg baik!!”
“Iya, sama-sama. Makasih juga buat pujiannya.” Aku begitu penasaran dengan perkataan Rahsya tadi bahwa ia menyukain Bisma, pacar gue. Rahsya emang nggak tau hubunganku dengan Bisma. Hal itu sengaja kami rahasiakan agar tidak menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Dan aku nggak menyangka, sahabatku sendiri ternyata menyukai orang yang tidak lain adalah pacar aku sendiri.
****
Keesokan harinya di sekolah………………………………….
“Bis………,” panggilku lalu menghampiri Bisma yang sedang bicara dengan teman-temannya. Teman-temannya yang melihat Aku datang langsung pergi meninggalkan Bisma dan Aku.
“Ehhh,,, loe Marsha. What’s up, my girl?”
“Ntar pulang sekolah, ada yang mau gue omongin sama loe! Penting!”
“So??”
“Gue tunggu loe di kantin!” Aku pergi meninggalkannya menuju kelas.
Tiba-tiba, Rahsya datang menghampiriku.
“Marsha!!” seru Rahsya dengan semangat.
Aku yang pagi itu sedang tidak bersemangat, terpaksa harus meladeni Rahsya. Mukaku tampak pucat.
“Apa, Ra?” sahutku cuek seperti kemarin.
“Ahhhh,,, Marsha nggak asyik, nih! Yang semangat, dong, Sha!! Kayak gue, nihhh!!”
“Tauu, ahh!! Sekarang loe mau ngapain ketemu gue?”
“Gue cuma mau nanya sama loe soal yang kemaren. Gue boleh masuk Cheers, kan?”
Aku mulai tampak berpikir walaupun kepalaku sedikit pusing.
“Gini, deh, Ra. Ntar, jam 3 sore loe dateng ke sekolah. Gue mau tes kemampuan loe! Gue nggak bisa sembarangan nerima orang masuk Cheers. Orang yang masuk Cheers harus punya skill yang bagus!”
“Tapi, kan, gue ini sahabat loe, Sha!?”
“Walaupun loe itu sahabat gue, Ra!! Loe, harus tetep di tes!!” Aku lalu pergi meninggalkan Rahsya yang tampak sedikit kecewa.
****
Pulang sekolah……………………
“Sha…………..,” panggil Bisma lalu menghampiriku di kantin kemudian duduk tepat di hadapan aku.
“Loe kenapa ngajak gue ketemuan disini?” Bisma manatapku dengan penuh arti. Aku tak sanggup melihat tatapannya itu.
“Ada yang mau gue bicarain sama loe.”
“Apa?” Ia terlihat antusias.
“Hmm,,, untuk sementara ini, lebih baik kita harus jaga jarak dulu, Bis.”
“Lho?!? Kenapa?” Bisma terkejut.
“Gue nggak mau aja, Bis, kalo ntar ada yang tau hubungan kita berdua.”
“Emang, kita selama ini kurang jaga jarak apa?”
“Nggak, kok, Bis. Kita emang selama ini udah jaga jarak tapi………” Aku berhenti bicara.
“Tapi apa, Sha?”
“Ada sesuatu hal yang ngebuat gue ngelakuin ini. Gue harap, loe bisa ngertiin gue, Bis.”
“Oke. Gue ngerti, kok. Ya udah, gue cabut dulu, ya? Loe mau gue anter pulang?”
“Nggak usah. Gue bisa pulang sendiri, kok. Ya udah, pulang gih sana!!”
Bisma pun pergi meninggalkan aku di kantin seorang diri.
****
Hari ini, aku latihan Cheers. Sejujurnya, aku lagi nggak enak badan. Tapi, aku paksakan untuk latihan karna sebentar lagi tim basket sekolahku akan ikut kejuaraan dan mau nggak mau, Tim Cheers sekolah aku juga ikut mempersiapkannya karna Tim Cheers aku akan tampil sebagai pembuka.
Saat latihan………………………………
“Sha, gue udah siap buat di tes, nih!!” Rahsya menghampiriku.
“Ya udah, 5 menit lagi kita mulai, yah?”
Rahsya mengangguk lalu pergi meninggalkanku didepan lokerku dengan semangat. Mungkin, karna sebentar lagi ia akan deket sama Bisma. Aku terduduk didepan lokerku. Aku merasa kepalaku pusing sekali dan saat itu juga aku jatuh pingsan.
****
Aku terbangun dan sadar bahwa aku telah berada di ruang UKS. Ku lihat, ada Rahsya dan Bisma yang menemaniku.
“Rahsya, Bisma? Kenapa gue bisa disini?” tanyaku.
“Loe tadi pingsan, Sha. Untung tadi ada Bisma. Dia tadi yang nemuin loe pingsan dan langsung bawa loe kesini.”
“Oohh, thanks, yah, Bis?” Aku tersenyum padanya.
“Ya udah, gue keluar dulu, yah?” pamit Bisma.
Aku mengangguk. Bisma lalu keluar dari ruangan itu.
“Marshaaaaaaa!!! Sumpah! Bisma ganteng bangett!! Untung loe pingsan! Jadi gue bisa deket sama dia, deh. Hheheh,,,” ujar Rahsya sepeninggal Bisma.
“Jadi, loe seneng gue pingsan tadi?”
“Setengah iya setengah nggak, sih, Sha.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Tanpa kami sadari, sepasang mata sedang mengawasi kami dari luar dan mendengarkan semua pembicaraan kami. Orang itu tidak lain adalah Bisma.
“Jadi, Ra, loe beneran suka sama Bisma??”
“Ya iyalah, Sha!! Kalo gue nggak suka, mana mungkin gue mau ikut yang kayak beginian!!”
“Ya udah, ntar gue bantu loe deketin Bisma.”
“Thanks, yah, Sha? Ya udah, gue keluar dulu.”
Rahsya meninggalkanku seorang diri diruangan tersebut. Tiba-tiba, Bisma membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar lalu masuk dengan wajah marah dan kecewa. Aku yang melihatnya terkejut.
“Bis… Bisma?? Sejak kapan loe disitu??”
“Sejak gue keluar dari ruangan ini!!”
“Loe…. Loe denger semuanya, Bis?” Aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur.
“Iya!! Gue denger semuanya!! Kenapa loe nggak ceritain ini sama gue, Sha? Gue ini pacar loe!!” teriak Bisma.
“Gue… Gue nggak bermaksud ngelakuin itu, Bis!! Gue mohon, loe mau dengerin gue. Rahsya itu sahabat gue, Bis!! Gue nggak mau ngecewain dia!! Gue nggak mau bikin dia sedih! Jadi, gue minta sama loe, tinggalin gue dan bahagiain Rahsya.”
“Tapi kenapa, Sha?? Loe… Loe udah nggak sayang sama gue? Loe udah nggak cinta sama gue? Iya??”
“Gue sayang sama loe, Bis!! Gue juga cinta sama loe!! Tapi Cinta itu butuh pengorbanan, Bis!! Gue nggak mau liat sahabat gue sedih!! Lebih baik gue yang sakit hati daripada sahabat gue kecewa!!” Aku mulai menangis.
“Loe egois, Sha!! Loe nggak mikirin perasaan gue!! Loe bilang, cinta itu butuh pengorbanan!! Tapi, cinta juga nggak bisa dipaksain, Sha!! Gue cuma sayang sama loe!! Gue cuma cinta sama loe!! Gue cuma pengen loe!! Gue nggak butuh Rahsya atau yang lain!!”
“Loe yang egois, Bis!! Tolong, loe bahagiain Rahsya. Dia satu-satunya sahabat gue, Bis. Kalo loe bahagiain dia, itu sama aja loe ngebahagiain gue,” ujarku terisak.
“Loe becanda, kan, Sha?”
“Gue serius, Bis! Lebih baik, kita temenan aja dulu. Mungkin, ini yang terbaik buat kita berdua untuk saat ini. Gue harap, loe bisa ngertiin posisi gue, Bis.”
“Oke. Kalo itu yang loe mau, gue bakal lakuin itu semua. Gue akan bahagiain Rahsya buat loe. Tapi loe harus inget, Rahsya bakal lebih sakit hati lagi kalo dia tau gue sama sekali nggak cinta sama dia.”
“Loe harus bisa cinta sama dia, Bis.”
“Gue nggak bisa mencintai orang lain selain loe, Sha. My heart has used for love you, my girl. Nobody can change your position in my heart although you ask it.”
“Terserah loe, Bis. Yang penting, loe bisa bahagiain dia. Dan satu lagi, berhenti panggil gue dengan sebutan ‘my girl’. Karna gue bukan pacar loe lagi.”
Bisma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan aku seorang diri.
“I’m sorry, Bis. Maybe, it’s the best for you, me and Rahsya, my best friend.” Aku menangis di ruangan itu tanpa seorang pun yang tau.
****
1 minggu kemudian……………
“Marshaaaaaaaaaa!!!” Rahsya menghampiriku yang sedang melamun di taman sekolah.
“Ehh,, elo, Ra!! Gue kira siapa. Ada apa, nih? Kayaknya, loe lagi happy banget?!”
“Yupz!! 100 buat loe, Sha!! Gue emang lagi happy banget, nih!!”
“Happy kenapa, Ra?”
“Tau nggak, Bisma nembak gue, Shaaa!! Aaaa,,,,,, senangnyaaa!!!”
“Oh ya?” Aku mencoba untuk antusias.
Rahsya mengangguk seraya tersenyum.
“Jadi sekarang, loe udah jadi pacarnya Bisma, dong?”
Rahsya menggelengkan kepalanya. Aku pun merasa heran.
“Lho?? Kok…..”
“Iya, Sha! Gue nggak jadian sama Bisma!”
“Kok, nggak sih, Ra? Bukannya itu mau loe?”
“Emang, sih, itu mau gue. Tapi, akhirnya gue tau ternyata hati dia udah lebih dulu dimiliki sama sahabat gue sendiri.”
“Ma…. Maksud loe, Ra??”
“Bisma udah ceritain semuanya sama gue, Sha. Dia bilang, walaupun gue jadi pacar dia, gue tetep nggak akan bisa miliki hati dia karna hati dia udah lebih dulu dimiliki oleh seseorang dan orang itu ternyata sahabat gue sendiri, yaitu loe! Loe pernah bilang ke Bisma, kan, kalo Cinta itu butuh pengorbanan. Dan Bisma juga pernah bilang ke loe, kan, kalo Cinta itu nggak bisa dipaksain. Kedua kalimat itu juga berlaku buat gue, Sha.”
Aku mendengarkan Rahsya berbicara tanpa terasa air mataku mulai menetes membasahi pipiku.
“Gue sadar, Sha, kalo cinta itu butuh pengorbanan dan gue nggak bisa maksain cinta gue ke Bisma. Dan gue nggak nyangka, ternyata loe rela ngorbanin kebahagiaannya demi gue. Naahh,,, sekarang gentian!! Gue yang rela ngorbanin kebahagiaan gue demi loe dan Bisma!!”
“Jadi, loe….”
“Iya, Sha. Gue rela, kok, kalo loe jadian sama Bisma. Ehh,, balikan, say! Bukan jadian!! Kalian berdua, kan, udah pernah jadian trus putus gara-gara gue. Hheheheh….” Rahsya nyengir.
“Loe…. Loe nggak marah, Ra?”
“Awalnya, gue marah. Tapi akhirnya gue sadar kalo semua itu emang nggak pernah bisa gue milikin.”
“Loe serius, Ra?”
Rahsya mengangguk sambil tersenyum. Akupun langsung memeluk Rahsya sambil berkata dengan terisak: “Thanks banget, Ra? Gue nggak tau harus bilang apa ke loe.”
Rahsya melepas pelukanku lalu berkata: “Iya, sama-sama. Ya udah, sekarang loe cari Bisma! Bilang ke dia kalo loe sayang banget sama dia.” Rahsya tersenyum.
Aku menganggukkan kepalaku dan berlari meninggalkan Rahsya yang nampak bahagia meskipun hatinya sakit. Aku cari Bisma dan akhirnya kutemukan ia sedang bermain basket seorang diri di lapangan. Akupun langsung menghampirinya.
“Bisma….” Panggilku seraya tersenyum.
“Marsha? Ngapain loe kesini?” Ia berhenti bermain.
Aku berjalan mendekatinya yang sedang berdiri seorang diri di tengah lapangan itu lalu memeluknya dengan erat. Sangat erat. Aku pun mulai menangis di pelukannya.
“Gue sayang sama loe, Bis!! Gue cinta sama loe!! Gue nggak mau pisah dari loe!!”
Bisma melepas pelukanku lalu menghapus airmataku dengan lembut seraya berkata: “Gue juga, kok, Sha!!”
“Loe mau maafin semua kesalahan gue kemaren, kan??”
Bisma tampak berpikir.
“Hmm,, gimana ya??Maunya di maafin atau nggak?”
“Loe nggak mau maafin gue, Bis?”
Bisma tertawa lalu berkata: “Ya jelas gue maafin loe lah, Sha!! Gue mana mau kehilangan loe!! Gue bisa mati kalo loe pergi dari sisi gue karna hati gue ada di loe!!”
“Loe serius, Bis??”
Bisma mengangguk sambil tersenyum lalu berkata: “So,,, loe mau balikan sama gue?”
Aku kembali memeluknya dan berkata: “Gue mau, Bis!! Gue mau balikan sama loe!! Kita mulai semuanya dari awal. Oke??”
“Siap, bos!!” Bisma tertawa.
Ku lihat dari kejauhan, Rahsya memandangi kami sambil tersenyum.
“Thanks, Ra!! Loe emang sahabat sejati gue!! Gue janji, gue nggak bakalan ngekhianatin persahabatan kita. Dan buat loe, Bisma. I love you so much!! Thanks, karna loe udah mencintai gue selama ini!! I promise with you that I will always love you!!” batinku.
~TAMAT~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar